Showing posts with label Benua Hilang. Show all posts
Showing posts with label Benua Hilang. Show all posts

[ Video ] Solusi Bagian 1 ( Atlantis Nusantara )

               Video dibawah ini menunjukkan mengenai Atlantis Nusantara, Misteri Borobudur dan Negeri Ratu Saba. Video ini berasal dari The Fitra Documentary ( Youtube ). Mari kita simak video Solusi Bagian 1 ( Atlantis Nusantara ) :


               Itulah video dari Solusi Bagian 1 ( Atlantis Nusantara ). Ikuti terus video mengenai Atlantis Nusantara hanya di Aansiklop3dia. Semoga Bermanfaat.    

          
Sumber : Youtube
         

Negeri Para Nabi adalah TANAH JAWA ??

         Tanah Jawa merupakan Negeri Para Nabi yang telah tergerus oleh sejarah, bahkan oleh mereka yang menamakan diri " Penganut Kejawen ". Dari hasil research peneliti muda yang tergabung dalam Tim Studi Sains Al Qur'an mereka telah menyelenggarakan " Ekspedisi menjelajah Negeri Para Nabi ". Mereka menemukan bahwa situs Nabi Daud dan Nabi Sulaiman ada di Jawa Tengah. Sedangkan situs Nabi Nuh berada di Jawa Timur. Sebelumnya kita pernah membahas mengenai ASAL MUASAL KAPAL NABI NUH  dan ternyata Kapal Nabi Nuh berasal dari Jawa karena dibuat dengan kayu jati. Bapaknya Para Nabipun berada di Pulau Jawa ( Ibrahim ). Ibrahim berasal dari nama Brahma ( Leluhur Orang Jawa ).
          Sebenarnya Suku Jawa merupakan Bani Israel yang tetap beriman kepada Nabi Musa dan mendiami tanah yang dijanjikan yakni Atlantis ( Atlantis berada di Indonesia ). Sedangkan Bani Israel yang berdiaspora ke seluruh Dunia merupakan Bani Israel yang mendustakan Nabi Musa. Adapun Bani Israel yang sekarang menjajah Palestina sebenarnya YAHUDI PRODUK REKAYASA, maksudnya Bani Israel dari suku ke-13 yaitu Suku Kazar ( Hasil kawin campur Bani Israel yang berdiaspora dengan penduduk lokal ). Klaim atas YERUSALEM sebenarnya sebuah kekeliruan yang disengaja, padahal YERUSALEM, TEMPLE OF SOLOMON dan TAABUT berada di Tanah Jawa yaitu di CANDI BOROBUDUR dan SLEMAN di Yogyakarta.
           Dalam Al Qur'an disebutkan bahwa " TAABUT " mempunyai arti " KODE RAHASIA " yang disimpan Nabi Daud. Saat ini " Taabut " sedang dibuka rahasianya melalui candi-candi yang dibangun sejak zaman Nabi Sulaiman ( Borobudur ). Sebenarnya kata " CANDI " berasal dari kata " SANDI " yang berarti kode rahasia. Jadi, Rahasia jejak para nabi akan terkuak setelah ayat Tuhan berupa gambar diberbagai candi di NEGERI SLEMAN di susun dengan ayat Tuhan di Al Qur'an.
           Sebenarnya Bani Israel ( Bukan Suku Jawa ) telah membuat Hadits-hadits Palsu para ahli menyebutnya " HADITS ISRAILIYAT " yang dibuat oleh kaum munafik dari kalangan Bani Israel. Inilah cerdasnya Bani Israel yang terpecah belah, energi terkuras habis dalam pusaran " Konflik Palestina-Israel ", sementara Bani Israel berkat ketekunannya berhasil menguasai DUNIA melalui infiltrasi segenap lini kehidupan. Saat ini mereka fokus mereka adalah Indonesia ( Tanah Jawa ). Tetapi, mengapa Indonesia ?
           Dalam Al Qur'an dikatakan bahwa ULAMA-ULAMA ( ILMUWAN ) BANI ISRAEL mengenal Al Qur'an sebagaimana anaknya sendiri. Coba kita mengambil Ibrah dari kemampuan Nabi Daud dalam teknologi peleburan Besi dan manajemen pengelolaan gunung yang diwariskan di Tanah Jawa dan banyak meninggalkan bangunan misteri seperti Borobudur, Piramida dan Piramida Aztek. Dalam peradaban tersebut pendirinya merupakan 3 sosok yang luar biasa yakni Nabi Daud, Sulaiman, dan Ratu Bilqis ( Ratu Boko ).

Sumber : Keajaiban Dunia.net

Kapal Nabi Nuh berasal dari Nusantara ?

          Situs Kapal Nabi Nuh ditemukan di gunung Ararat, Turki. Situs tersebut ditemukan oleh Angkatan Udara U.S.A ( Tahun 1449 ) dari ketinggian sekitar 4.600 meter dan dimuat di berita LIFE MAGAZINE ( Tahun 1460 ). Penelitian mengenai Kapal Nabi Nuh ini masih berlanjut hingga kini, Tetapi darimanakah kapal tersebut berasal ?
           Baru-baru ini, peneliti gabungan ( arkeolog-antropology ) 2 negara ( China dan Turki ) yang memiliki anggota 15 orang. Peneliti tersebut juga membuat film dokumenter mengenai situs Kapal tersebut dan menemukan bukti baru. Mereka mengumpulkan artefak dan fosil berupa : Serpihan kayu kapal, tambang dan paku.
           Hasil Laboratorium NOAH'S ARK MINESTERIES INTERNATIONAL ( China dan Turki ) melakukan serangkain uji materi fosil kayu oleh tim ahli tanaman purba. Ternyata, fosil kayu yang terdapat pada Noah's Ark adalah Kayu Jati ( Kayu Jati hanya ada di Pulau Jawa ).
          Mereka telah meneliti berbagai sample kayu purba dari beberapa negara dan memastikan bahwa fosil kayu jati tersebut berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur ( Kayu jati tersebut 100 % cocok dengan sample Kayu Noah's Ark ).
         Bila fosil kayu tersebut adalah kayu Jati dan itu hanya tumbuh di Pulau jawa, Kemungkinan Nabi Nuh dan Umatnya tinggal di Nusantara. Saat ini kita dapat melihat bahwa Nusantara merupakan gugusan pulau. Tetapi dahulu merupakan daratan yang sangat luas.  

Sumber : Pelita Online.com

Masalembo Triangle yang sangat misterius

           Masalambo Triangle terletak di Pulau kecil yang bernama Masalembo. Banyak kecelakaan yang ada didaerah Masalembo Triangle. Salah satu yang populer adalah jatuhnya pesawat Adam Air dan Kapal Senopati Nusantara, keduanya terjadi pada tahun 2007. Karena, terdapat beberapa kecelakaan besar maka Masalembo Triangle biasa disebut Segitiga Bermuda dari Indonesia.
  • Pertemuan ARLINDO ( Arus Laut Indonesia )
          Dibawah ini gambar arus laut di Indonesia terutama di wilayah Indonesia bagian Timur. Coba sobat perhatikan arus yang melewati Masalembo Triangle ini.
          Pada bagian atas ( garis berwarna hijau ) menunjukkan air laut mengalir dari barat memanjang di Laut Jawa, berupa monsoonal steam ( Arus Musiman ).
          Arus ini sangat dipengaruhi oleh cuaca dan musim. Sedangkan dari selat Makassar ada arus lain dari utara yang merupakan thermoklin ( Aliran laut akbat perbedaan suhu lautan ). Kedua arus ini bertemu di sekitar Masalembo Triangle. Walau gerakannya tak kencang, namun tentu saja arus ini akan sangat mempengaruhi pelayaran laut di daerah Masalembo Triangle ini.
          Perlu diingat ya ! Bahwa lintasan Matahari bergeser dari Utara kemudian ke Selatan lalu balik lagi ke Utara dengan siklus tahunan. Itulah sebabnya pada sekitar Bulan Januari merupakan saat Perubahan MONSOON ( Arus Musiman ).

Sumber : Indo Crop Circles. 
          
          

Penemuan struktur mirip " Tembok " lurus Papua

          Sejak Januari 2012 lalu, Google Map menghilangkan struktur " Tembok " lurus yang ada di dalam laut utara Papua. Entah apa alasan Google untuk menghilangkan struktur itu ?.
          Saat Bumi di zaman es, Pulau Papua ( Irian Jaya ) jauh lebih besar dari sekarang ini. Bagian selatannya pun masih menyambung dengan Benua Australia. Begitu juga dibagian pesisir utara Papua, Daratan Papua menghampar ketengah laut beratus-ratus kilometer karena permukaan laut Papua dahulu lebih dangkal dibanding sekarang. Permukaan sekarang lebih dalam dibanding dahulu karena semua es sudah mencair dan menjadi lautan.
           Diperkirakan panjang dari Jayapura Wall ( Tembok Papua ) mencapai 110 kilometer, dengan tinggi 1860 meter dan dengan lebar 2700 meter. Tinggi tembok ini 2 kali lebih tinggi dari Gedung tertinggi saat ini ( Menara Dubai ). Jayapura Wall ( Tembok Papua/Jayapura ) ini terletak tak jauh dari Jayapura ( Ibukota Papua ). Karena terletak di daerah Jayapura tembok ini pun dinamai Jayapura Wall.
           Bangunan setinggi dan sepanjang itu tak mungkin dibuat oleh orang bersenjatakan sumpit, pedang, keris, tombakdan lain sebagainya. Juga tak mungkin dibuat oleh orang berkendara keledai, kuda maupun pedati. Pastinya bangunan tersebut dibuat oleh orang modern yang mengetahui teknologi canggih. Berikut Foto-foto Jayapura Wall yang saya ambil dari Indocropcirles.worspress.com :

Sumber : Indo Crop Circles.


            

SUNDA LAND MENJAWAB MISTERI BENUA ATLANTIS YANG HILANG



 
Atlantis City 

Kontroversi terbesar sepanjang sejarah peradaban manusia,  tampaknya kini mulai terungkap. Benua Atlantis seperti disebutkan Plato, Filosof Yunani, dalam bukunya Timaeus dan Critias sekitar 2500 tahun silam, dari sudut pandang geologi dan spekulasi ilmiah dewasa ini, sangat mungkin adalah Sunda Land, yang sekarang kita kenal dengan Indonesia Barat (Jawa, Sumatera dan Kalimantan) hingga semenanjung Malaysia dan Thailand.  
Benua Atlantis disebut sebagai awal peradaban manusia. Penduduknya memiliki kebudayaan tinggi dan bangsa superior. Namun benua itu telah tenggelam selama ribuan tahun karena berbagai bencana alam. Yang menarik, hingga kini tidak diketahui dengan pasti dimana sebenarnya letak benua Atlantis itu? Dari sudut pandang geologis, ternyata sangat mungkin letak Atlantis justru di tataran Sunda….!
Oki Oktariadi, peserta program Doktor Pengembangan Kewilayahan di Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung, Jawa Barat, belum lama ini mengungkapkan hasil studi yang menarik mengenai kontroversi misteri  benua yang hilang itu.
 
Plato 
”Peradaban Atlantis yang hilang” hingga kini barangkali hanyalah sebuah mitos mengingat belum ditemukannya bukti-bukti yang kuat tentang keberadaannya.
Mitos itu pertama kali dicetuskan oleh seorang ahli filsafat terkenal dari Yunani, Plato (427 – 347 SM), dalam bukunya ”Critias dan Timaeus”. Disebutkan oleh Plato bahwa terdapat awal peradaban yang disebut Benua Atlantis; para penduduknya dianggap sebagai dewa, makhluk luar angkasa, atau bangsa superior; benua itu kemudian hilang, tenggelam secara perlahan-lahan karena serangkaian bencana, termasuk gempa bumi. Namun dari sudut pandang geologi masa kini, Atlantis itu sangat mungkin adalah Sunda Land.
Selama lebih dari 2000 tahun, Atlantis yang hilang telah menjadi dongeng. Tetapi sejak abad pertengahan (mid century), kisah Atlantis menjadi populer di dunia Barat. Banyak ilmuwan Barat secara diam-diam meyakini kemungkinan keberadaannya. Di antara para ilmuwan itu banyak yang menganggap bahwa Atlantis terletak di Samudra Atlantis, bahkan ada yang menganggap Atlantis terletak di Benua Amerika sampai Timur Tengah. Penelitian pun dilakukan di wilayah-wilayah tersebut. Akan tetapi, kebanyakan peneliti itu tidak memberikan bukti atau telaah yang cukup. Sebagian besar dari mereka hanya mengira-ngira.
Hanya beberapa tempat di bumi yang keadaannya memiliki persayaratan untuk dapat diduga sebagai Atlantis sebagaimana dilukiskan oleh Plato lebih dari 20 abad yang lalu. Akan tetapi Samudera Atlantik tidak termasuk wilayah yang memenuhi persyaratan itu. Para peneliti masa kini malahan menunjuk Sundaland (Indonesia bagian barat hingga ke semenanjung Malaysia dan Thailand) sebagai Benua Atlantis yang hilang dan merupakan awal peradaban manusia.
Fenomen Atlantis dan awal peradaban selalu merupakan impian para peneliti di dunia untuk membuktikan dan menjadikannya penemuan ilmiah sepanjang masa. Apakah pandangan geologi memberi petunjuk yang kuat terhadap kemungkinan ditemukannya Atlantis yang hilang itu? Apabila jawabannya negatif, apakah peluang yang dapat ditangkap dari perdebatan ada tidaknya Atlantis dan kemungkinan lokasinya di wilayah Indonesia?
Hampir semua tulisan tentang sejarah peradaban menempatkan Asia Tenggara sebagai kawasan ‘pinggiran’. Kawasan yang kebudayaannya dapat subur berkembang hanya karena imbas migrasi manusia atau riak-riak difusi budaya dari pusat-pusat peradaban lain, baik yang berpusat di Mesir, Cina, maupun India. Pemahaman tersebut mengacu pada teori yang dianut saat ini yang mengemukakan bahwa pada Jaman Es paling akhir yang dialami bumi terjadi sekitar 10.000 sampai 8.000 tahun yang lalu mempengaruhi migrasi spesies manusia.
Jaman Es terakhir ini dikenal dengan nama periode Younger Dryas. Pada saat ini, manusia telah menyebar ke berbagai penjuru bumi berkat ditemukannya cara membuat api 12.000 tahun yang lalu. Dalam kurun empat ribu tahun itu, manusia telah bergerak dari kampung halamannya di padang rumput Afrika Timur ke utara, menyusuri padang rumput purba yang kini dikenal sebagai Afrasia.
Padang rumput purba ini membentang dari pegunungan Kenya di selatan, menyusuri Arabia, dan berakhir di pegunungan Ural di utara. Jaman Es tidak mempengaruhi mereka karena kebekuan itu hanya terjadi di bagian paling utara bumi sehingga iklim di daerah tropik-subtropik justru menjadi sangat nyaman. Adanya api membuat banyak masyarakat manusia betah berada di padang rumput Afrasia ini.
Maka, ketika para ilmuwan barat berspekulasi tentang keberadaan benua Atlantis yang hilang, merekamengasumsikan bahwa lokasinya terdapat di belahan bumi Barat, di sekitar laut Atlantik, atau paling jauh di sekitar Timur Tengah sekarang.
Penelitian untuk menemukan sisa Atlantis pun banyak dilakukan di kawasan-kawasan tersebut. Namun di akhir dasawarsa 1990, kontroversi tentang letak Atlantis yang hilang mulai muncul berkaitan dengan pendapat dua orang peneliti, yaitu: Oppenheimer (1999) dan Santos (2005).
Kontroversi Dan Rekonstruksi Oppenheimer
Kontroversi tentang sumber peradaban dunia muncul sejak diterbitkannya buku Eden The East (1999) oleh Oppenheimer, Dokter ahli genetic yang banyak mempelajari sejarah peradaban. Ia berpendapat bahwa Paparan Sunda (Sundaland) adalah merupakan cikal bakal peradaban kuno atau dalam bahasa agama sebagai TamanEden. Istilah ini diserap dari kata dalam bahasa Ibrani Gan Eden. Dalam bahasa Indonesia disebut Firdaus yang diserap dari kata Persia “Pairidaeza” yang arti sebenarnya adalah Taman.
Menurut Oppenheimer, munculnya peradaban di Mesopotamia, Lembah Sungai Indus, dan Cina justru dipicu oleh kedatangan para migran dari Asia Tenggara. Landasan argumennya adalah etnografi, arkeologi, osenografi, mitologi, analisa DNA, dan linguistik. Ia mengemukakan bahwa di wilayah Sundaland sudah ada peradaban yang menjadi leluhur peradaban Timur Tengah 6.000 tahun silam. Suatu ketika datang banjir besar yang menyebabkan penduduk Sundaland berimigrasi ke barat yaitu ke Asia, Jepang, serta Pasifik. Mereka adalah leluhur Austronesia.
Rekonstruksi Oppenheimer diawali dari saat berakhirnya puncak Jaman Es (Last Glacial Maximum) sekitar 20.000 tahun yang lalu. Ketika itu, muka air laut masih sekitar 150 m di bawah muka air laut sekarang.
Kepulauan Indonesia bagian barat masih bergabung dengan benua Asia menjadi dataran luas yang dikenal sebagaiSundaland. Namun, ketika bumi memanas, timbunan es yang ada di kutub meleleh dan mengakibatkan banjir besar yang melanda dataran rendah di berbagai penjuru dunia.
Data geologi dan oseanografi mencatat setidaknya ada tiga banjir besar yang terjadi yaitu pada sekitar 14.000, 11.000, dan 8,000 tahun yang lalu. Banjir besar yang terakhir bahkan menaikkan muka air laut hingga 5-10 meter lebih tinggi dari yang sekarang. Wilayah yang paling parah dilanda banjir adalah Paparan Sunda dan pantai Cina Selatan.Sundaland malah menjadi pulau-pulau yang terpisah, antara lain Kalimantan, Jawa, Bali, dan Sumatera.
Padahal, waktu itu kawasan ini sudah cukup padat dihuni manusia prasejarah yang hidup sebagai petani dan nelayan. Bagi Oppenheimer, kisah ‘Banjir Nuh’ atau ‘Benua Atlantis yang hilang’ tidak lain adalah rekaman budaya yang mengabadikan fenomena alam dahsyat ini. Di kawasan Asia Tenggara, kisah atau legenda seperti ini juga masih tersebar luas di antara masyarakat tradisional, namun belum ada yang meneliti keterkaitan legenda dengan fenomena Taman Eden.
Benua Atlantis Menurut ARYSIO SANTOSKontroversi dari Oppenheimer seolah dikuatkan oleh pendapat Arysio Santos. Profesor asal Brazil ini menegaskan bahwa Atlantis yang hilang sebagaimana cerita Plato itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Pendapat itu muncul setelah ia melakukan penelitian selama 30 tahun yang menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization (2005). Santos dalam bukunya tersebut menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Sundaland(Indonesia bagian Barat).
Santos menetapkan bahwa pada masa lalu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Langka, dan Indonesia bagian Barat meliputi Sumatra, Kalimantan, Jawa dan terus ke arah timur. Wilayah Indonesia bagian barat sekarang sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan samudera Pasifik.
 
Temple of Poseidon in Atlantis,
The Lost City 
Argumen Santos tersebut didukung banyak arkeolog Amerika Serikat bahkan mereka meyakini bahwa benua Atlantis adalah sebuah pulau besar bernama Sundaland, suatu wilayah yang kini ditempati Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Sekitar 11.600 tahun silam, benua itu tenggelam diterjang banjir besar seiring berakhirnya zaman es.
Wilayah Sundaland (Indonesia bagian Barat dalam buku Santos (2005) Menurut Plato, Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus dan mencairnya Lapisan Es yang pada masa itu sebagian besar benua masih diliputi oleh Lapisan-lapisan Es. Maka sebagian benua tersebut tenggelam.
Santos berpendapat bahwa meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan tergambarkan pada wilayah Indonesia (dulu). Letusan gunung api yang dimaksud di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan, letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba, dan letusan gunung Semeru/Mahameru di Jawa Timur. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah letusan Gunung Tambora di Sumbawa yang memecah bagian-bagian pulau di Nusa Tenggara dan Gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa membentuk Selat Sunda (Catatan : tulisan Santos ini perlu diklarifikasi dan untuk sementara dikutip di sini sebagai apa yang diketahui Santos).
 
atlantis rings 
Berbeda dengan Plato, Santos tidak setuju mengenai lokasi Atlantis yang dianggap terletak di lautan Atlantik. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa letusan berbagai gunung berapi menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya sehingga mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events. Catatan : pernyataan Santos ini disajikan seperti apa adanya dan tidak merupakan pendapat penulis.
Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia, diantaranya ialah: Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.
Dalam usaha mengemukakan pendapat, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian oleh para ahli Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.” Atlantis memang misterius, dan karenanya menjadi salah satu tujuan utama arkeologi di dunia. Jika Atlantis ditemukan, maka penemuan tersebut bisa jadi akan menjadi salah satu penemuan terbesar sepanjang masa.
Pandangan Geologi
Pendekatan ilmu geologi untuk mengungkap fenomena hilangnya Benua Atlantis dan awal peradaban kuno, dapat ditinjau dari dua sudut pandang yaitu pendekatan tektonik lempeng dan kejadian zaman es. Wilayah Indonesia dihasilkan oleh evolusi dan pemusatan lempeng continental Eurasia, lempeng lautan Pasifik, dan lempeng Australia Lautan Hindia (Hamilton, 1979). umumnya disepakati bahwa pengaturan fisiografi kepulauan Indonesia dikuasai oleh daerah paparan kontinen, letak daerahSundaland di barat, daerah paparan Sahul atau Arafura di timur. Intervensi area meliputi suatu daerah kompleks secara geologi dari busur kepulauan, dan cekungan laut dalam (van Bemmelen, 1949).
Kedua area paparan memberikan beberapa persamaan dari inti-inti kontinen yang stabil ke separuh barat dan timur kepulauan. Area paparan Sunda menunjukkan perkembangan bagian tenggara di bawah permukaan air dari lempeng kontinen Eurasia dan terdiri dari Semenanjung Malaya, hampir seluruh Sumatra, Jawa dan Kalimantan, Laut Jawa dan bagian selatan Laut China Selatan.
Tatanan tektonik Indonesia bagian Barat merupakan bagian dari sistem kepulauan vulkanik akibat interaksi penyusupan Lempeng Hindia- Australia di Selatan Indonesia. Interaksi lempeng yang berupa jalur tumbukan (subduction zone) tersebut memanjang mulai dari kepulauan Tanimbar sebelah barat Sumatera, Jawa sampai ke kepulauan Nusa Tenggara di sebelah Timur. Hasilnya adalah terbentuknya busur gunung api (magmatic arc).
Rekontruksi tektonik lempeng tersebut akhirnya dapat menerangkan pelbagai gejala geologi dan memahami pendapat Santos, yang meyakini Wilayah Indonesia memiliki korelasi dengan anggapan Plato yang menyatakan bahwa tembok Atlantis terbungkus emas, perak, perunggu, timah dan tembaga, seperti terdapatnya mineral berharga tersebut pada jalur magmatik di Indonesia. Hingga saat ini, hanya beberapa tempat di dunia yang merupakan produsen timah utama. Salah satunya disebut Kepulauan Timah dan Logam, bernama Tashish, Tartessos dan nama lain yang menurut Santos (2005) tidak lain adalah Indonesia. Jika Plato benar, maka Atlantis sesungguhnya adalah Indonesia.
Selain menunjukan kekayaan sumberdaya mineral, fenomena tektonik lempeng tersebut menyebabkan munculnya titik-titik pusat gempa, barisan gunung api aktif (bagian dari Ring of Fire dunia), dan banyaknya komplek patahan (sesar) besar, tersebar di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara dan Indonesia bagian timur. Pemunculan gunung api aktif, titik-titik gempa bumi dan kompleks patahan yang begitu besar, seperti sesar Semangko (Great Semangko Fault membujur dari Aceh sampai teluk Semangko di Lampung) memperlihatkan tingkat kerawanan yang begitu besar.
Menurut Kertapati (2006), karakteristik gempa bumi di daerah Busur Sunda pada umumnya diikuti tsunami. Para peneliti masa kini terutama Santos (2005) dan sebagian peneliti Amerika Serikat memiliki keyakinan bahwa gejala kerawanan bencana geologi wilayah Indonesia adalah sesuai dengan anggapan Plato yang menyatakan bahwa Benua Atlantis telah hilang akibat letusan gunung berapi yang bersamaan.
 
atlantis-indonesia map 

Pendekatan lain akan keberadaan Benua Atlantis dan awal peradaban manusia (hancurnya Taman Eden) adalah kejadian Zaman Es. Pada zaman Es suhu atau iklim bumi turun dahsyat dan menyebabkan peningkatan pembentukan es di kutub dan gletser gunung. Secara geologis, Zaman Es sering digunakan untuk merujuk kepada waktu lapisan Es di belahan bumi utara dan selatan; dengan definisi ini kita masih dalam Zaman Es. Secara awam untuk waktu 4 juta tahun ke belakang, definisi Zaman Es digunakan untuk merujuk kepada waktu yang lebih dingin dengan tutupan Es yang luas di seluruh benua Amerika Utara dan Eropa.
Penyebab terjadinya Zaman Es antara lain adalah terjadinya proses pendinginan aerosol yang sering menimpa planet bumi. Dampak ikutan dari peristiwa Zaman Es adalah penurunan muka laut. Letusan gunung api dapat menerangkan berakhirnya Zaman Es pada skala kecil dan teori kepunahan Dinosaurus dapat menerangkan akhir Zaman Es pada skala besar.
Dari sudut pandang di atas, Zaman Es terakhir dimulai sekitar 20.000 tahun yang lalu dan berakhir kira-kira 10.000 tahun lalu atau pada awal kala Holocene (akhirPleistocene). Proses pelelehan Es di zaman ini berlangsung relatif lama dan beberapa ahli membuktikan proses ini berakhir sekitar 6.000 tahun yang lalu.
Pada Zaman Es, pemukaan air laut jauh lebih rendah daripada sekarang, karena banyak air yang tersedot karena membeku di daerah kutub. Kala itu Laut China Selatan kering, sehingga kepulauan Nusantara barat tergabung dengan daratan Asia Tenggara.
Sementara itu pulau Papua juga tergabung dengan benua Australia. Ketika terjadi peristiwa pelelehan Es tersebut maka terjadi penenggelaman daratan yang luas. Oleh karena itu gelombang migrasi manusia dari/ke Nusantara mulai terjadi. Walaupun belum ditemukan situs pemukiman purba, sejumlah titik diperkirakan sempat menjadi tempat tinggal manusia purba Indonesia sebelum mulai menyeberang selat sempit menuju lokasi berikutnya (Hantoro, 2001).
Tempat-tempat itu dapat dianggap sebagai awal pemukiman pantai di Indonesia. Seiring naiknya paras muka laut, yang mencapai puncaknya pada zaman Holosen ±6.000 tahun dengan kondisi muka laut ± 3 m lebih tinggi dari muka laut sekarang, lokasi-lokasi tersebut juga bergeser ke tempat yang lebih tinggi masuk ke hulu sungai.
 
taman Eden
Berkembangnya budaya manusia, pola berpindah, berburu dan meramu (hasil) hutan lambat laun berubah menjadi penetap, beternak dan berladang serta menyimpan dan bertukar hasil dengan kelompok lain. Kemampuan berlayar dan menguasai navigasi samudera yang sudah lebih baik, memungkinkan beberapa suku bangsa Indonesia mampu menyeberangi Samudra Hindia ke Afrika dengan memanfaatkan pengetahuan cuaca dan astronomi. Dengan kondisi tersebut tidak berlebihan Oppenheimer beranggapan bahwa Taman Eden berada di wilayah Sundaland.
Taman Eden hancur akibat air bah yang memporak-porandakan dan mengubur sebagian besar hutan-hutan maupun taman-taman sebelumnya. Bahkan sebagian besar dari permukaan bumi ini telah tenggelam dan berada dibawah permukaan laut, Jadi pendapat Oppenheimer memiliki kemiripan dengan akhir jaman es yang menenggelamkan sebagian daratan sundaland

linkwithin_text='Artikel Menarik Lainnya:' Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...